http://journal.mahadalyalfithrah.ac.id/index.php/PUTIH/issue/feed PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah 2021-05-17T11:59:16+07:00 Fathul Haris ayeas_achul@yahoo.co.id Open Journal Systems <div>PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah (ISSN: P-2598-7607; E-2622-223X) published by Ma'had Aly Al Fithrah Takhassus Tasawwuf wa Thoriqotuhu (Sufism and Tariqa). This journal contains Islamic Studies mainly covering nuances of Tasawuf and Tarekat. This journal is published twice a year, ie March and September.<br>The editors invite academics, lecturers and researchers to contribute scientific articles that have never been published by other journals. The script is typed 1.5 cm on A4 size paper with a writing length of between 20-30 pages, 7000-9000 words. Incoming script is evaluated by the editorial board. Editors can make changes to the posts that are loaded for uniform format, without changing their subtans.</div> <p>Editor Address:<br>JOURNAL KNOWLEDGE ABOUT SCIENCE AND HIKMAH(JKSH) The Center of Science and Philosophy Markaz Al-'Ulum wa Al-Hikmah Takhassus Tasawwuf wa Thariqatuh MA'HAD ALY AL FITHRAH SURABAYA Jl. Kedingding Lor No. 99 Tlp. 08510 300 6049 Surabaya 60129 E-mail: jurnalputih@mahadaly.ac.id</p> http://journal.mahadalyalfithrah.ac.id/index.php/PUTIH/article/view/59 KRITIK AL-GHAZALI TERHADAP PEMIKIRAN PARA FILOSOF 2021-05-17T11:59:16+07:00 Fathur Rozi arroziani@gmail.com <p>This study explains al-Ghazali’s argumentative criticism in Tahafut al-Falasifah. It aims to analyze the intentions of al-Ghazali’s argumentative refutation of other alleged rational thinkers considered by irfani epistemology as the cause of decline of Islam and to observe the method used by al-Ghazali in his argument. This study is a library research which is included in the qualitative research cluster. The result of study is that the intentions of al- Ghazali’s argumentative criticism are to discuss the twenty errors of Muslim philosophers, namely al-Farabi and Ibn Sina in matters of metaphysical philosophy. The method used by al-Ghazali is also the same as Aristotle’s criticism of Eudoxus, that is attacking Muslim philosophers in terms of the arguments they built, even labelling them as heretics and infidels/apostates. This method is known as argumentum ad hominem because it attacks Muslim philosophers when it comes to argumentation. It is built on the dialectical method of speech or in other terms known as jawab wa su’al which always recalls an imaginary trial. Keywords: Tahafut al-Falasifa, al-Ghazali, argumentative criticism</p> 2020-03-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 MA'HAD ALY AL FITHRAH PRESS http://journal.mahadalyalfithrah.ac.id/index.php/PUTIH/article/view/60 TEORI-TEORI IGNAZ GOLDZIHER DALAM STUDI HADIS 2021-05-17T11:59:11+07:00 Syamsul Arifin elqoheriey@gmail.com <p>Pemikiran Goldziher dalam kajian hadis sangat berpengaruh pada orientalis generasi selanjutnya, sehingga pemikiran-pemikirannya masih layak untuk diteliti ulang. Secara umum Ignaz tidak jauh berbeda dengan para orientalis lainnya dalam melakukan study hadis (eksistensi hadis), yang tidak lepas dari tiga kelompok besar skeptis, sanguine (non-skeptis), dan middle ground. Dari bahasan ini dapat diketahui bagaimana posisi intelektual Goldziher terutama dalam karyanya Mohammedanische Studien, teori-teori Golziher seperti merekontruksi istilah hadis dan sunnah dengan menggunakan pendekatan historis yang kritis dan skeptis. Metode kritik matan menjadi argumen bahwa hadis-hadis yang diyakini kesahihannya adalah palsu yang dibuat untuk kepentingan kekuasaan. Namun teori-teori itu kemudian dibantah oleh ilmuan hadis seperti Azami dan Musthafa al-Siba’i, dengan pembuktian teks-teks awal, dan penelusuran ulang terhadap argumentasi yang dipakai Goldziher, serta dikuatkan dengan pentatan hadis sejak masa Rasulullah SAW</p> 2021-02-09T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 MA'HAD ALY AL FITHRAH PRESS http://journal.mahadalyalfithrah.ac.id/index.php/PUTIH/article/view/62 Bahaya Hamba Bersandar Pada Amal: Perspektif Khauf dan Raja’ 2021-05-17T11:59:15+07:00 Moh Yusuf tazaissuf@gmail.com <p>Khauf andraja' are among the elements of a structural composition of the human soul. The elements are provided by the Creator. These two elements will appear in humans in a certain condition or state of human experience. When khauf is excessive and dominates the human soul, it will lead to despair and result in disaster. Meanwhile, the raja'that propagates uncontrollably will lead to arrogance and turns into a loss. The emergence of khauf domination begins with the God servants’ attitude of excessively relying on their deeds or abilities. Meanwhile, the emergence of uncontrollably propagating raja' is caused by the same attitude towards the deeds. This character of dependence has made humans have minimum efforts towards Allah’s grace and His role as the Maker of the absolute policy of the acceptance and rejection of human deeds. There is a need for&nbsp; a continuous balance between khauf and raja' in order to eliminate the attitude&nbsp; of relying on the deeds and to build a comfortable inner harmony which lead to the mahabbah.</p> 2020-03-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 MA'HAD ALY AL FITHRAH PRESS http://journal.mahadalyalfithrah.ac.id/index.php/PUTIH/article/view/67 MENGUJI (LAGI) AUTENTISITAS TAFSIR AL-JILANI 2021-04-07T15:45:05+07:00 A. Kholid Izzul Abror kopyaher@yahoo.com <p><em>”Tafsir al-Ji&gt;la&gt;ni”</em> yang dirilis pertama kali pada tahun 2009 silam masih menyisakan problem autentisitas yang cukup serius. Pasalnya, tafsir bergenre sufi falsafi yang berjudul lengkap <em>Al-Fawa&gt;tih} al-Ila&gt;hiyyah wa al-Mafa&gt;tih} al-Ghaybiyyah al-Muwadhdhih}ah li al-Kalim al-Qur’a&gt;niyyah wa al-H}ikam al-Furqa&gt;niyyah </em>ini, dari sisi isi dan materinya –misalnya dalam penafsiran ayat sifat-- tidak cocok dengan profil dari ‘Abd al-Qa&gt;dir al-ji&gt;la&gt;ni (w. 1166). Ia lebih cocok dengan profil dari tokoh lain bermazhab Hanafi yang bernama Ni’mat Alla&gt;h al-Nakhjuwa&gt;ni (w. 1514). Al-Ji&gt;la&gt;ni masyhur sebagai penganut mazhab Hanbali yang cenderung tekstualis dan ajarannya pun banyak yang menekankan untuk senantiasa merujuk pada Alquran dan sunah. Sedangkan Tafsir ini sangat filosofis dan relatif tidak sesuai dengan konsepsi ajaran tasawuf al-Ji&gt;la&gt;ni. Karakteristik gaya bahasa, metode penafsiran, dan sumber penafsiran dari tafsir ini juga tidak sesuai dengan gaya al-Ji&gt;la&gt;ni sebagaimana yang terekam dalam kitab-kitabnya yang otoritatif semisal <em>al-Ghunyah</em>. Ditambah lagi, komentar para pakar tafsir dan tokoh tafsir dalam banyak buku ensiklopedia tafsir mereka, semuanya (nyaris) mengatakan bahwa tafsir ini adalah karya dari al-Nakhjuwa&gt;ni. Itulah beberapa temuan dari penelitian ini yang pada akhirnya mengantarkan penulis untuk sampai pada kesimpulan bahwa <em>”Tafsir al-Ji&gt;la&gt;ni” </em>bukanlah buah karya dari al-Ji&gt;la&gt;ni. Tafsir ini lebih pas disebut sebagai karya dari al-Nakhjuwa&gt;ni.</p> 2021-04-07T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Mahad Aly Al Fithrah Press http://journal.mahadalyalfithrah.ac.id/index.php/PUTIH/article/view/64 KARAKTERISTIK MANUSIA DALAM PANDANGAN TASAWUF 2021-05-17T11:59:14+07:00 Ahmad Syatori ahmad.syatori1972@gmail.com <p>Kajian ilmiah ini didalamnya memuat penjelasan tentang identitas jati diri manusia dalam pandangan ulama shufiyah. Dalam uraian pembahasannya menyoroti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan anatomi manusia dalam pembentukan karakter, jiwa dan kepribadiannya yang sempurna. Nilai dan ajaran tasawuf juga ternyata dapat dijadikan sebagai rujukan dan referensi dalam hubungannya dengan diri seseorang dan orang lain serta lingkungan dimana manusia hidup saling berinteraksi. Dari hubungan interaksi antara seseorang dengan orang lain itupula dapat diketahui tentang karakter, jiwa dan kepribadiannya masing-masing.Tasawuf tidak hanya menyoroti sisi bagian dalam diri manusia secara batin saja sebagaimana pandangan dan perkiraan kebanyakan orang secara umum, akan tetapi tasawuf sesungguhnya tasawuf juga menyoroti berbagai sisi dan segi kemanusiaan, baik yang ada dalam ruang dimensi tasawuf itu sendiri maupun ruang-ruang dimensi lainnya termasuk sisi bagian dalam karakteristik manusia. Sudut pandang tasawuf dalam kajiannya tidak bisa terlepas dari sudut pandang yang ada dalam kajian anatomi manusia, baik bagian dari dimensi dalam (batin) maupun bagian dimensi luar (dzohir). Adapun sudut pandang tasawuf dalam orientasinya terhadap dimensi batin lebih menitik beratkan pada nilai-nilai ajaran spiritual, sedangkan sudut pandang tasawuf dalam kaitannya dengan anatomi manusia lebih menitik beratkan pada bentuk psikologis secara lahir. Namun demikian, secara prinsip masing-masing sudut pandang tersebut tetap memiliki hubungan kesesuaian dan keterkaiatan yang saling mengikat di antara keduanya.</p> 2020-03-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 MA'HAD ALY AL FITHRAH PRESS http://journal.mahadalyalfithrah.ac.id/index.php/PUTIH/article/view/65 ESKATOLOGI AL-QURAN PERSPEKTIF TAFSIR SUFI-ISHARI 2021-05-17T11:59:13+07:00 Kusroni Kusroni kusroni0904@gmail.com <p>al-Qushayri dikenal sebagai salah satu mufasir <em>sufi-ishari</em>. Dua karyanya yang sangat masyhur dalam bidang tasawuf dan tafsir adalah <em>al-Risalah al-Qusyariyah</em>, dan <em>Lata’if al-Isharat</em>. Jika dibandingkan dengan mufasir sufi lainnya, al-Qushayri cenderung moderat dan tidak menuai banyak kritik, sebagaimana mufasir sufi lainnya. Penelitian ini bermaksud menelaah bagaimana perspektif <em>sufi-ishari</em>mewarnai penafsirannya atas ayat-ayat eskatologi dalam Alquran. Penelitian ini berfokus pada penafsiran al-Qushayri pada surah al-Qiyamah. Penelitian ini menemukan bahwa nuansa <em>sufi-ishari</em> mewarnai penafsirannya atas surah al-Qiyamah, meskipun hanya dalam beberapa ayat. Penelitian ini juga menemukan bahwa meskipun al-Qushayri adalah seorang mufasir sufi, ia tidak meninggalkan pendekatan linguistik dan pendekatan berbasis tradisi (<em>bi al-ma’thur</em>) dalam penafsiran.</p> 2020-03-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 MA'HAD ALY AL FITHRAH PRESS http://journal.mahadalyalfithrah.ac.id/index.php/PUTIH/article/view/66 SAKARATUL MAUT Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Dampak Positifnya 2021-05-17T11:59:12+07:00 Abu Sari ari.arvia@gmail.com <p><em>Sakaratul maut</em> adalah istilah untuk menyebutkan penderitaan yang dialami setiap manusia ketika dicabut nyawanya. Pencabutan nyawa ini disebut dengan naza’. Mungkin saja ada orang beranggapan bahwa sulitnya seseorang ketika mengalami naza’ adalah pertanda ia mati dengan tidak baik. Dengan pendekatan deskriptif-analisis, penulis ingin mencoba mengumpulkan data-data terkait dan mengurainya untuk menemukan pemahamn yang utuh tentang <em>sakaratul maut</em>. Penelitian ini berkesimpulan, menurut mayoritas ulama penderitaan <em>sakaratul maut</em> berlaku untuk setiap manusia. Bahkan, terkadang Allah SWT sengaja mempersulit kematian seseorang untuk menaikkan derajatnya, atau untuk menghapus kesalahannya.Oleh karena itu, kesudahan seseorang, apakah baik atau buruk tidak bisa dinilai dengan penderitaan dan sulitnya seseorang ketika mengalami naza’. Sikap yang bijaksana tentu selalu berbaik sangka kepada setiap orang yang beriman, walaupun secara kasyaf mata kita pernah melihat ada orang yang sepertinya mengalami penderitaan menjelang ajalnya.</p> 2020-03-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 MA'HAD ALY AL FITHRAH PRESS